You are hereDiskusi Dampak Bencana Kekeringan

Diskusi Dampak Bencana Kekeringan


By djuni - Posted on 30 January 2009

Jumat, 11 Agustus 2006, 10:42 WIB
Diskusi Dampak Bencana Kekeringan

Jakarta, MPBI---Makin meluasnya wilayah yang mengalami krisis air sebagai dampak kekeringan yang terjadi tahun ini mendorong Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) untuk menggelar diskusi tentang Potensi dan Dampak Kekeringan Terhadap keberlangsungan Hidup Masyarakat Indonesia. Diskusi berlangsung kemarin (9/8) di sekretariat MPBI dengan menghadirkan nara sumber Dr. Gatot Irianto (Direktur Pengelolaan Air Ditjen PLA Departemen Pertanian) dan Dr. Paulus Agus Winarso (anggota Dewan Riset Nasional).

Menurut Dr. Gatot, masalah kekeringan sampai sekarang belum tertangani tuntas karena salah satu penyebabnya adalah belum adanya kesamaan persepsi tentang kekeringan itu sendiri. Beragamnya interpretasi ini pada akhirnya juga berpengaruh terhadap cara atau pemecahan masalah yang dipilih atas bencana kekeringan yang terjadi. “Perbedaan interpretasi antar pemangku kepentingan ini karena adanya kepentingan yang berbeda-beda antar mereka, sehingga tindak lanjut dari masing-masing pemangku kepentingan ini dalam menangani masalah kekeringan juga berbeda-beda”, jelasnya.

Di sisi lain Gatot mengingatkan, agar masalah kekeringan yang terjadi belakangan ini kesalahannya jangan ditimpakan kepada para petani. Selama ini petani selalu dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya kekeringan, krisis air akibat pemanfaatan air berlebihan untuk sawah-sawah mereka. Gatot memberikan alasan, kalau ada petani di wilayah-wilayah tertentu yang menambah frekuensi tanamnya dari dua kali menjadi tiga kali setahun, belum tentu kebutuhan air yang mereka gunakan jauh lebih besar dari hotel-hotel atau industri di kota-kota besar. “Perlu untuk dikaji lebih lanjut, seberapa besar penggunaan air oleh hotel, pabrik, dan industri rakus air lainnya di Jakarta. Jangan-jangan mereka ini penggunaan airnya jauh lebih besar dari para petani yang selama ini dituding sebagai penyebab krisis air dan kekeringan itu”.

Terkait dengan distribusi air yang tidak merata di daerah-daerah pertanian, Gatot mensiasatinya dengan menggandeng kerjasama dengan jajaran pemerintah daerah, termasuk pelibatan aparat kepolisian dan Koramil (komando Rayon Militer). Selama ini petani-petani yang berada di daerah atas (hulu) adalah pihak yang paling diuntungkan. Selain memperoleh jatah waktu paling lama, mereka juga terus-menerus dilewati air, baik untuk memasok kebutuhan petani di wilayah tengah maupun di daerah hilir. “Agar tidak lagi terulang kecurangan-kecurangan seperti sebelumnya, aparat keamanan kami libatkan dan jatah waktu pengairannya juga diubah. Petani yang tinggal di bawah (hilir) justru memperoleh jatah waktu paling lama”, jelasnya.

Krisis air akibat kekeringan yang melanda beberapa wilayah belakangan ini sebenarnya sudah diprediksikan banyak pakar sejak awal tahun lalu. Namun kekeringan masih belum tertangani. Bukan hanya daerah-daerah endemik lama yang mengalami kekeringan tetapi muncul sejumlah daerah endemik kekeringan baru.

Di Provinsi Banten misalnya, daerah endemik kekeringan meliputi Kab. Lebak, Pandeglang, Serang dan Kabupaten Tangerang. Untuk wilayah Propinsi Jawa Barat, daerah yang mengalami kekeringan meliputi Kabupaten Indramayu, Cirebon, Bandung (Kab), Tasikmalaya, dan Kabupaten Cianjur. Sementara untuk wilayah Propinsi Jawa Tengah, kekeringan terjadi di Kabupaten Pemalang dan Cilacap.

Dukungan Pemerintah

Untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko bencana kekeringan yang lebih buruk, pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian membuat kebijakan seperti; memantau perkembangan dan penanggulangan kekeringan daerah endemik; mengembangkan “water harvesting” dan irigasi hemat air; pendayagunaan sumberdaya alam untuk penanggulangan kekeringan, diversifikasi komoditas dan pendapatan; dan memanfaatkan harga komoditas sebagai insentif mendorong produksi pangan nasional.

Dukungan departemen pertanian baik dalam bentuk dukungan kegiatan maupun dukungan pendanaan antara lain diwujudkan dalam bentuk; pengembangan Embung; pengembangan Sumur Resapan; pengembangan Dam Parit; pengembangan Irigasi Air Tanah Dangkal; pengembangan Irigasi Air Tanah Dalam; pengembangan Irigasi Sprinkler; pengembangan Irigasi Tetes; pengadaan Pompa; tata air mikro; dan peningkatan efisiensi sektor non pertanian.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
4 + 5 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.