You are herePRBBK/CBDRM

PRBBK/CBDRM


By djuni - Posted on 13 January 2009

Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK)
atau Community Based Disaster Risk Reduction (CBDRR)

Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) atau Community Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) sering diangap sinonim dengan Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas (PBBK)/Community Based Disaster Management (CBDM) adalah sebuah pendekatan yang mendorong komunitas akar rumput dalam melakukan interpretasi sendiri atas ancaman dan risiko bencana yang dihadapinya, melakukan prioritas penanganan/pengurangan yang dihadapinya, mengurangi serta memantau dan mengevaluasi kinerjanya sendiri dalam upaya pengurangan bencana. Namun pokok dari keduanya adalah penyelenggaraan yang seoptimal mungkin memobilisasi sumberdaya yang dimiliki dan dikuasainya serta merupakan bagian internal dari kehidupan keseharian komunitas. Pemahaman ini penting, karena masyarakat akar rumput yang berhadapan dengan ancaman bukanlah pihak yang tak berdaya sebagaimana dikonstruksikan oleh kaum teknokrat.

PRBBK dalam Konteks Penanggulangan Bencana di Indonesia

Lahirnya Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang diikuti dengan beberapa turunan peraturan di tahun 2008, memberikan berbagai pertanda membaiknya penanggulangan bencana di Indonesia di tingkat regulasi, lepas dari berbagai celah yang masih ada, termasuk hambatan internal dari kelembagaan formal di semua tingkat yang sering ditandai oleh birokrasi yang tidak efisien, proses pembuatan kebijakan yang top-down dan yang tidak berbasis hak, dan sebagainya.

Di lain pihak, lahirnya UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan dimasukkannya perencanaan tata ruang berbasis bencana dengan pendekatan partisipatif, semakin memberikan angin segar bagi komunitas PRB di Indonesia. Belajar dari banyak inisiatif saat ini di Indonesia ada banyak uji coba pemetaan partisipatif masyarakat dalam disain tata ruang dan tata guna lahan.

Pelaksanaan PRBBK di Indonesia dalam gambaran besarnya masih mencari bentuk dalam masing-masing konteks lokal. Berbagai inisiatif membangun ‘desa siaga,’ ‘desa kenyal bencana’, ‘desa model CBDRM’, ‘mukim daulat bencana’, hingga rentetan penamaan lainnya yang berbeda-beda, masih dalam taraf pilot project. Semuanya masih dalam tahap mencari format good practice.

Inisiatif-inisiatif terdahulu seperti dalam konteks masyarakat Merapi, keberlanjutan praktek PRBBK menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sedangkan dari berbagai bagi pengalaman (lesson learn) dari lapangan, beberapa uji coba PRBBK mengalami mati muda. Mortalitas PRBBK tentunya bisa didiagnosis secara memadai.

Mortalitas PRBBK salah satunya disebabkan oleh faktor kelahirannya yang prematur karena investasi waktu dan sumber daya lokal serta pengetahuan yang terbatas. Kebanyakan inisiatif PRBBK datang dan diikat oleh ‘waktu donor’ atau ‘waktu proyek’ yang mampat dan tidak terhubungkan dengan ‘waktu sosial’ yang lebih longgar dalam konteks keseharian komunitas.

Di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gambaran yang lebih utuh di multi level tentang inisiatif-inisiatif PRB di Indonesia dari Aceh hingga Papua bisa ditemukan. Dokumen-dokumen seperti ini bisa juga ditemukan versi-versi terdahulunya secara online. Selain merupakan tugas BNPB, tentunya penting dipahami bahwa inisiatif-inisiatif PRB yang didokumentasikan merupakan bagian dari komitmen bersama tingkat global khususnya dalam kerangka Hyogo Framework for Action.

Pendekatan Berbasis Komunitas

Maksud yang tersirat dalam konsep “berbasis komunitas” adalah bahwa pekerjaan penanggulangan bencana dilaksanakan bersama dengan komunitas dimana mereka berperan kunci dalam perencanaan, disain, penyelenggaraan, pengawasan dan evaluasi. Disepakati bahwa dalam pendekatan ini komunitas adalah pelaku utama yang membuat dan melaksanakan keputusan-keputusan penting sehubungan dengan penanggulangan bencana.

Secara empirik, dalam banyak asus/cerita/sejarah/peristiwa, manusia adalah makhluk yang berupaya menyelesaikan krisis-krisis yang dihadapinya. Beberapa komunitas di dunia, sudah lama akrab dan ‘hidup bersama risiko bencana’. PRBBK adalah sebuah penanda tentang apa yang komunitas tertentu telah/sudah/sedang/akan lakukan dalam mengurangi risiko bencana yang dihadapi yang bersifat siklus/periodik ataupun prediktif. Beberapa komunitas di Banglades, Afrika, Timor, Yogyakarta, Aceh, Nias dan sebagainya sudah lama hidup bersama ancaman baik banjir, kekeringan, vulkanik, tsunami, gempa, yang datang silih berganti. Pengetahuan pengelolaan bencana yang diolah dari bio-indikator (suara burung tertentu, fenomena ular turun gunung), geo-indikator (air surut pertanda tsunami, bunyi gemuruh laut, burung gempa) yang selanjutnya disebut pengetahuan lokal (atau kadang disebut ‘pengetahuan masyarakat asli) yang direproduksi ulang antar generasi, bisa di kenali sebagai bagian penting dari praktek PRBBK.

PRBBK adalah cerminan dari kepercayaan bahwa komunitas mempunyai hak sepenuhnya untuk menentukan jenis dan cara penanggulangan bencana di konteks mereka. Hal ini muncul dari implikasi atas kepemilikan hak dasar pada orang perorangan dan komunitas yang melekat dengan hak untuk melaksanakan hak itu dalam bentuk kesempatan untuk menentukan arah hidup sendiri (self determination). Mengikuti alur pikir ini, maka sejauh diijinkan oleh peraturan hukum dan perundangan, komunitas mempunyai hak sepenuhnya untuk menentukan apa dan bagaimana menanggulangi bencana di kawasannya sendiri-sendiri.

Makna berbasis komunitas dalam PRBBK tentunya bisa diperluas sebagai berikut:

  • Partisipasi penuh. Partisipasi penuh mengandaikan partisipasi pihak rentan laki-laki dan perempuan; anak-anak, tua-renta, cacat, ras marginal, dan sebagainya.
  • Sinonim dengan “bottom up” bukan “top down”, partisipasi penuh, akses dan kontrol, pendekatan inklusif “Sense of belonging” terhadap sistem penanganan bencana yang sudah/sedang/ akan dibangun.
  • Konsep “dari, oleh dan untuk” masyarakat dalam keseluruhan proses.
  • Masyarakat yang mengontrol sistem dan bukan dikontrol sistem [dalam konteks EWS/sistem PRBBK].


Pembenaran Pendekatan Berbasis Komunitas

Komunitas adalah faktor pembeda kejadian bencana. Kejadian-kejadian baik yang disebabkan oleh alam dan non-alam lazimnya baru disebut sebagai suatu bencana bilamana kejadian itu menimbulkan dampak yang mengganggu keberfungsian suatu komunitas sehingga menimbulkan kerugian baik fisik, sosial, ekonomi, dll; dan sedemikian rupa sehingga komunitas yang bersangkutan dengan sumberdayanya sendiri, tidak akan dapat untuk menanganinya. Pengertian ini menempatkan komunitas sebagai unsur pembeda suatu bencana dari sekedar kejadian. Maka satuan analisis terkecil dari bencana adalah komunitas dan oleh karenanya status keberdayaan komunitas menjadi faktor penentu terjadinya bencana atau tidak, atau setidak-tidaknya tingkat keparahan dampaknya. Mengikuti logika ini, maka komunitas adalah juga unit penting dimana harus dilakukan investasi untuk penanggulangan bencana.

Dalam konteks PRBBK, modal sosial dalam komunitas adalah potensi krusial untuk penanggulangan bencana. Sumberdaya sosial-budaya, unsur-unsur, struktur, dan proses-proses interaksi internal dan eksternal setiap komunitas adalah modal bagi kehidupan komunitas termasuk `penyelenggaraan penanggulangan bencana. Peluang untuk menggali dan mengoptimalkan penggunaan pontensi inilah yang membuat PRBBK menjadi lebih memadai ketimbang pendekatan lainnya.

Diringkaskan di sini pembenaran lainnya tentang PRBBK:

  • Walau komunitas bukanlah satuan yang homogen, namun, ada beberapa kesamaan pengalaman dalam relasi dengan alam dan fenomena alam, memiliki dan mereproduksi ‘local knowledge’ dalam menghadapi peristiwa ekstrim – sesuatu yang kemudian direformat/ direvisi/disebut/distempel/difasilitasi sebagai PRBBK.
  • Contoh: komunitas desa X yang tinggal pada lingkungan geografis yang sama, terpapar pada ancaman (hazard) dan risiko bencana yang berulang - memiliki pengalaman krisis yang sama: kesamaan memberi peluang meningkatnya “sense of belonging” – “sharing the same disaster risks”.
  • Tujuan PRBBK adalah mengurangi risiko bencana dengan cara mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas individu/rumah tangga/komunitas dalam menghadapi dampak merusaknya bencana.
  • PRBBK identik dengan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dan menjadi prasyarat pembangunan berkelanjutan
  • Komunitas dan kelompok paling rentan adalah aktor utama/kunci dalam PRBBK dan pihak luar (LSM, NGOs/UNs) berperan mendukung dan mengambil peran fasilitasi seperti membantu analisis situasi, mengukur tingkat perencanaan dan implementasi agenda ataupun konsensus PRBBK. Pendekatan dominan solusi ‘engineering/technical minded/ dan solusi hukum/aturan semata; tendensi untuk top-down dan kaku dalam pengambilan keputusan. Minimnya partisipasi publik; Pihak terkena dampak diperlakukan sebagai ‘korban’ yang pasif, menyebabkan banyak proyek mitigasi bencana yang gagal.
  • Konsentasi kuasa dan pengetahuan pada satu titik (pemerintah pusat/daerah) dan akibat peminggiran masyarakat dalam pengambilan keputusan, banyak proyek mitigasi (kekeringan, banjir, gempa, vulkanik) yang merepresentasikan kepentingan penguasa/yang punya duit (donor), ketimbang kepentingan/ kebutuhan masyarakat.
  • Sunatan partisipasi mengerdilkan keberlanjutan program, meningkatkan kerentanan terhadap bencana bukan sebaliknya memperkecil kerentanan. Ketiadaan akses dan kontrol atas sistem mitigasi dan PRB yang dibangun, menyebabkan ketidakberlanjutan di tingkat komunitas.
  • Tidak ada yang lebih berkepentingan dalam memahami masalah bencana di tingkat komunitas sendiri yang kerap bertahan dan bertaruh dengan bencana.
  • Komunitas lokal memiliki kesempatan untuk lebih mengetahui tantangan, ancaman, hambatan dan kekuatan lokal dalam menghadapi bencana.
  • Sumber daya lokal dalam penanganan bencana (maupun pembangunan) layak diasah dan dikembangkan secara berkelanjutan.
  • Pengalaman PRBBK di komunitas tertentu dapat dimodifikasi, direvisi, dan disesuaikan di tempat lain.

Ariyabandhu (1999) menyebutkan lima alasan mengapa pendekatan berbasis komunitas dianggap lebih unggul ketimbang pendekatan lainnya:

  • Komunitas lebih paham tentang lingkungan mereka sendiri dan seringkali lebih dapat meramal kejadian-kejadian yang tidak mereka inginkan. Mereka kaya dengan pengalaman dalam pertahanan diri yang berevolusi sejak dulu dan paling sesuai dengan lingkungan sosio-ekonomik, budaya dan politik yang ada.
  • Pendekatan PRBBK mempunyai manfaat membantu memberdayakan komunitas untuk tidak terlalu bergantung pada bantuan pada saat darurat bencana dan memperkuat mereka untuk meningkatkan kapasitas mendukung mata pencaharian mereka sendiri.
  • Program yang melibatkan peran serta komunitas mempunyai potensi untuk secara positif mengatasi masalah-masalah sosio-ekonomik umum. Peran serta akan memberdayakan komunitas dengan pengetahuan dan ketrampilan baru, mengembangkan kemampuan kepemimpinan para warga komunitas, yang pada saatnya akan juga memperkuat kemampuan mereka untuk memberikan sumbangsih kepada upaya-upaya dan prakarsa pembangunan.
  • Dampak situasi bencana pada perempuan, dan masalah-maslaah serta kapasitas perempuan untuk bertahan hidup dan memberikan sumbangsih, sangat berbeda dari dampaknya terhadap laki-laki. Pendekatan PRBBK yang mempertimbangkan aspek ini mempunyai potensi untuk juga membantu mengatasi issue-issue sosial dan kesetaraan jender.
  • Hakekat pemberdayaan dalam pendekatan PBBK mempunyai kapasitas untuk menghapus beberapa aspek penyebab kerentanan, dan dengan itu mengurangi dampak kejadian-kejadian bencana pada masa datang.

Disadari bahwa penanggulangan bencana bukanlah suatu pendekatan yang dijamin keberhasilannya dalam ukuran pencapaian tujuan dan dimensi waktu. Secara umum kita pahami bahwa proses-proses partisipatif selalu memerlukan waktu yang lebih panjang ketimbang kalau program itu dilaksanakan sendiri oleh lembaga yang melaksanakan PRBBK. Tambahan lagi, semakin besar konsesi yang diberikan oleh lembaga atau praktisi penanggulangan bencana kepada komunitas, maka semakin besar pula kemungkinan warga komunitas akan mempengaruhi tujuan dan cara-cara mencapainya.